Awan membiru pertanda cahaya terik matahari pada saat ini. Aku hanya terduduk bersimpuh dikursi kampus samping taman yang ada. Hanya sendiri tanpa teman, aku juga sudah terbiasa dengan seperti ini, sehingga mereka membicarakan ini dibelakangku, yang keanehan diriku yang tak bisa bergaul, bukan aku tak bisa bergaul hanya saja mereka yang tak bisa bergaul dengan cara yang benar, itulah pikirku.
Kebanyakan pertemanan yang aku kenal hanya ada maunya aja, mau uangnya, mau bully nya, mau maunya pokoknya. Hmm aku nyaman dengan seperti ini, tapi tidak dengan hatiku, aku tak ada tempat bertanya dan tempat mengadu.
"Wei wildaaaaa" seru lelaki itu sembari duduk disampingku, dan menghancurkan lamunan ku
"Eh..eh.. " refleks ku berkata
"Hahaha, kamu aneh" ucapnya.
Aku berdiri dan langsung meninggalkannya menuju kampus
"Wil..wil..aku cuman bercanda, jangan marah dong"
"Kamu siapa sih? Aku saja tidak mengenalmu, kenapa selalu mengganggu ku?" jawabku dengan nada tinggi dan jari telunjukku menunjuk kearahnya
Terlihat si cowok tenang-tenang saja "oh iya, namaku Alif, panggil aku al saja" sembari tersenyum
Aku terdiam mendengar jawabannya, nih orang bukannya malah marah atau pergi malah memperkenalkan dirinya dan tersenyum semanis itu didepanku
"Hei...wildaaa" ucapnya menghancurkan lamunanku lagi.
"I..iyaa" jawabku dan langsung lari.
Melihat ekspresiku, terlihat alif seperti kebingungan, entah binggung karena apa dia seolah tertegun dan tak berfikir sejenak.
***
Seperti biasa, setelah dari taman aku selalu menuju kelasku baik ada jam belajar ataupun tidak, aku tak tau maksud alif yang selalu menganggu ku, sebenarnya aku tau namanya Alif alfatah, gimana tidak mengenalinya, dia adalah mahasiswa yang disukai banyak mahasiswi sini, walaupun aku tidak sih. Tapi aku penasaran kenapa sih dia mendekati ku terus, dimanapun, hmm apasih maunya anak itu..
"tuuut..tutttt...tuut"
"Eh, hp luh bunyi dari tadi" kata cewek yg sekelas denganku
"Eh..iya ma.. Makasih" jawabku terbatas kaget.
Terlihat disana tertulis nomor pribadi, tak tercantum nomornya apalagi namanya, hampir setiap hari nomor ini menelpon ku, tapi tak pernah aku angkat.
"Hei, kamu ngapain hanya terdiam, angkat telpon mu" ucap cewek tadi dengan nada tak senang
"Eh iyaa" jawabku dan langsung mengangkat telfon ny
"Hallo.. Assalamualaikum" ucapku
"Wa'alaikumsalam wil" suara itu menyahut dari telfon, aku terdiam sejenak, aku mengenali suara ini, bahkan sangat mengenalinya
"Wil..wildaaa..wilda wildaan" ucapnya lagi dengan nada merayu.
Aku terdiam, hanya diam yang aku lakukan, kaki yang tak bergerak, bahkan terasa mati sejenak, tak kusadari air mataku menetes membasahi pipiku, teringat semua tentang dia, kebersamaan yang kami lakukan berdua, saat pendakian, saat bermain air dipantai, sebuah senyum dan tawa ketulusan yang aku punya saat bersamanya. Tapi, ia malah pergi meninggalkanku dengan orang lain, tanpa aku tau kesalahanku. Dan inilah alasan aku semuanya untuk menutup diriku.
"Wil..kamu masih disana?" suara dari telfon itu.
Kumatikan telfon nya, dan tak tahan aku menahan tangisku lagi, terduduk aku dilantai kelasku, menangis dengan kenangan yang masih terbayang dipikiranku. Kenapa dia kembali datang?? Itulah pertanyaan dihatiku, aku sudah terlalu sakit dengan semuanya, sehingga aku mengurung diri sendiri bahkan hati ini juga. Kenapa dia dengan mudahnya kembali, seolah dia tanpa ada kesalahan denganku, seolah dia tidak tau perasaanku dulu ke dia. Entah apa yang aku rasa sekarang, senang, sedih, sakit apapun itu aku tak tau, yang aku mau hanyalah menangisi semua kenangan yang sudah aku buat dengannya, menyesal mengenal dia yang sudah membuatku mengenal hati yang patah. Sungguh sesal nya..
"Wil...wilda.." ada yang berseru namaku dari depan kelas. Aku mendengarnya, tapi aku sudah tidak kuat mengangkat kepalaku, melihatnya
"Wildaaa.. Kamu tidak apa-apa?" serunya lagi..
Aku merasa lemas, lemas sekali.. Nafasku mulai tak beraturan.
Terdengar suara kaki nya mendekat, dan menyentuhku untuk melihat keadaanku, tapi aku tak sadarkan diri .
"Wilda..wil..kamu kenapa" tanya nya sambil menyentuh lembut pipiku.
Aku hanya bisa melihatnya dengan kunangan, tak jelas yang aku lihat , yang aku tau dia adalah lelaki.
"Hmmm" aku hanya bisa berkata hmm, mulutku terasa berat untuk berbicara, mataku terasa berat untuk kubuka, badanku pun tak sanggup kutompang sendiri.
Terasa dia menggendongku, entah membawa kemana, aku sudah tak sadarkan diri lagi.
***
Hari itu, aku letih, tak bisa menahan emosi diri yang terus menangisinya, hingga menghabiskan semua tenagaku dengan tangis.
Tapi tidak dengan hari ini, aku harus membangkitkan diriku, seperti biasa aku terbiasa dengan penyemangat dari diriku sendiri, melihat ke jendela itu, ternyata matahari telah tersenyum dengan sinarnya, walaupun aku tau sinarnya akan hilang seperti dia yang hilang, tapi aku juga sadar akan ada bulan yang menemaniku sampai aku terlelap tapi ia juga akan menghilang, dari situ aku berkesimpulan, didunia ini tak ada yang setia baik teman ataupun lelaki kepada perempuannya. Aku berusaha tersenyum di tidur dan letihnya diri ini.
Aku binggung, dimana aku sekarang, terdiam aku dengan melirik sana kemari mengenali diaman aku sekarang, terlihat disamping kananku ada meja kecil dan sebuah gelas berisikan air putih yang terdapat note yang tertulis disana "Aku meminta, Tersenyumlah untuk hari ini". Aku binggung dari siapa note itu, bahkan aku tak mengenali tulisan itu, sambil aku berpikir dan mengenali tempat ini, ternyata ini adalah UKS kampus ku, baru kali ini aku masuk uks. Tapi siapa yang membawaku, apa aku tertidur seharian kemarin. Hmm.. Ada banyak tanya yang aku butuh jawabnya.
" indah...gimana keadaannya sekarang?" terdengar suara itu dari depan ruanganku
" wilda yah? Dia hanya keletihan saja kok" jawab wanita itu
"Bolehkah aku melihatnya" ucap pria itu, suaranya belum kukenali, dan berusaha untuk mengenalinya
"Sekarang dia tidak berkerudung, kuharap kamu mengerti, seharusnya sih dia sudah sadarkan diri" jawab wanita itu
"Oh ya sudah, ku titip dia yah, aku mau beli sarapan dulu"
"Oh iya.." jawabnya
....
"Cekreek..." suara pintunya dibukakan
Mataku langsung tertuju pada wanita yang berseragam putih yang mendekat kearahku
"Hei, wilda, gimana keadaanmu?" tanya nya sambil tersenyum padaku
"Baik" jawabku
"Kamu tak ingin bertanya?" tawarnya
"Tidak" jawabku
"Ternyata benar kata mahasiswa lain yah, kamu orangnya sulit ditebak..."
"Teruuus...?" lanjut ku
"Aku heran, kenapa dia mau membantumu" jawabnya
"Siapa???"
Aku langsung terduduk dan melepaskan infus ku, aku baru teringat bahwa yang membantuku adalah seorang lelaki, yang belum aku ketahui
"Eh, kamu..!! Kalau tidak menerima bantuan orang, jangan menyiksa diri sendiri seperti ini.." ucapnya sembari menahan darah yang jeluar dari bekas infusku. "Dia sedang membeli sarapan untuk kamu, paling sebentar lagi dia datang" lanjutnya.
"Mana handphone ku?" tanyaku gugup, tanpa pedulikan darah yang terus keluar dari tanganku.
"Ini..." wanita itu mengeluarkan handphone ku dari sakunya "pesan orang yang membantumu sih tidak boleh diberikan ke kamu dulu, tapi kamu memintanya, jadi aku berikan saja" jawabnya tersenyum
"Terimakasih" ucapku. Kulihat handphone ku, sudah mati. Aku menghela nafas, dengan penuh pertanyaan lagi, termenung yang entah memikirkan apa, yang aku tau aku tidak terima dengan kembalinya lelaki itu dihidupku.
"Assalamualaikum..." suara itu menghancurkan lamunanku, membuat aku menyorotkan pandangku kearahnya.
"Wa'alaikumsalam.." jawabku serentak dengan penjaga uks itu.
"Gimana keadaanmu wil.." tanya nya padaku
"Baik" jawabku, dengan berusaha mengenali lelaki ini
"Kenapa matamu seperti itu..?" tanya nya sambil heran
"Nggak.." jawab ku tak peduli
"Oh iya.. Kacamata mu yah.."ini.." katanya sambil memberikannya padaku.
Aku langsung mengambil kacamata itu, tapi begitu lamban tanganku untuk ku angkat sendiri dan mengambil kacamata itu, sehingga dia, Lelaki yang membantu ku memasangkan kacamata itu kepadaku. Aku mengedip-edip kan mataku, terlihat lelaki itu tepat didepan mataku, bermata minimalis, dengan hidung mancungnya, putih bersih kulitnya sembari tersenyum manis padaku.
"Astagfirullah.." ucapku kaget, dan tertunduk, tersadar aku salah melakukan pandangan itu.
Aku tak berani lagi mengangkat kepala ku untuk melihatnya, ternyata dia yang membantu ku, orang yang selama ini aku kasar kan dengan tolakan permintaan untuk berteman denganku, ternyata dia sudih membantu ku. Tapi, dia lelaki, aku takut berteman pada lelaki, apakah tidak apa jika aku menerima dia sebagai temanku, pikirku..
***
"Alif Al Fatah.. Kenapa namamu, nama islam? " tanyaku
"karena sebenarnya ibuku orang islam, tapi setelah mengenal ayah ku dan menikah, ibuku lidahnya agama.."
"lalu, siapa yang memberi kan nama itu ke kamu?"
"ibuku" jawabnya tersenyum dan terhenti langkahnya dan menatap wajahku..
"Kamu kenapa manatapku seperti itu?"
"Kamu mengingatkan aku ke ibuku"
Tersipu aku dan tertunduk pandangku, aku jadi memiliki rasa takut saat bersama alif, aku takut aku memiliki perasaan sama dia yang tak bisa aku bendung sendiri, aku takut hingga akhirnya aku meminta pertanggung jawaban atas rasa yang telah aku miliki kepadanya.
"Ya allah, jaga selalu hatiku hanya untuk mu dan rasulku, hanya kepada dua itu untuk saat ini" ucapku didalam hati,
Aku tak lagi menghiraukan alif, entah apa yang aku rasakan saat itu, aku berjalan sendiri menuju arah yang tak tau kemana yang akan aku tuju. terdengar olehku seruan dari mulut kecil nan tipis miliknya , tapi tak ku hiraukan itu semua, aku yang berjalan dengan cepat diiringi dengan langkah lari kecilnya Alif dibelakang ku. Dia seolah tak pernah bosan mengejarku yang selalu berusaha menjauh darinya, bagaimana jika aku tertaruh hati kepadanya, bagaimana dengan agama yang aku pegang erat Al-Qur'an dan Hadist yang aku miliki, apa aku juga akan seperti ibunya yang ia ceritakan, keluar dari agama ini lalu menikahi orang beragama lain dan masuk ke agama itu?. Bagaimana, bagaimana dan bagaimana itulah yang aku pikirkan.
Di sepanjang jalan, aku mulai letih dengan langkah cepat ini, terdengar langkah kaki alif masih ada dibelakangku, aku tertarik untuk menoleh kearahnya namun aku hanya berani dengan tunduk melihat sepatu berukuran besar dengan warna kusam itu.
"Greeeek..." langkah kaki ku terhenti pada satu titik, dengan seorang lelaki didepanku dan alif dibelakangku. aku mulai mengenali lelaki itu dengan urutan kakinya, kaki itu, dengan sepatu yang sama pada tahun lalu, terlihat tak berdebu bahkan terkilah dengan warna coklat kulit itu, kaki yang panjang, dengan dada yang kekarnya. Ternyata dia, dia yang selalu meneror ku selama ini di telpon, aku menatap tak sudih padanya, kupalingkan mukaku dari wajah sok manisnya itu. dia bernama Riyan, Yayan ku memanggilnya.
"Wil..." alif menyeru pelan
aku menganguk tak berkata
"Wil, kamu apa kabar?" tanya yan
"Baik" aku tertunduk
"Kamu udah berubah ya?"
"Begitulah.."
"Hei Perkenalkan, Namaku Alif." ucap alif mencoba mencairkan suasana sembari menyodorkan tangannya ke arah riyan.
"Eh iya, aku Riyan.." menyambut tangan alif
"Ooh..Teman wilda yah?"
"Iya, .." tersenyum tak enak
"Alif, ayo temani aku" ucapku
"Kemanaa..?"
tak dijawab sepatah katapun oleh wildaa, dia langsung menarik lengan baju panjangnya alif, melihat mereka seperti itu, Riyan terlihat sangat Tidak suka.
"Wiwil.." Panggil riyan
Aku tersentak berhenti lagi pada satu titik itu, tak bergerak bahkan alifpun berhenti melangkah, begitupun dengan mulutku, namun terlihat mulut alif ingin berkata yang tak sampai
"Aku Rindu..." ucapnya
"Wil... Aku rindu kamu.." ucapnya lagi
aku hanya terdiam menunduk, bahkan badanku tak mengarah ke arahnya
"aku tau, dulu aku salah, aku salah banget sudah ninggalin kamu begitu aja, aku minta maaf wil.."
"Alif, tak bisa kah kamu bawa aku pergi jauh dari lelaki ini?" ucapku
Alif hanya terdiam melihat ku dengan riyan, dia seolah tak mendengarkan apa kataku tadinya.
"Alif..!" Sentakku dengan nada tinggi
"Bahkan sejauh yang kau mau wil" jawabnya tenang, sembari berjalan sendiri didepanku, dan aku mengikutinya, aku berusaha tak menoleh ke arah lelaki tadi, lelaki yang dahulu kuanggap selalu membuatku senang dan mengerti dunia, bahkan dia yang ku anggap sebaik-baik lelaki, sekarang aku menyesal sesalnya mengingat dulu pernah mengenalnya, jalanku sangat pelan, aku tak akan pernah kembali kepadanya, bahkan kapanpun.
"Alif, cobalah lihat kebelakang, apakah dia masih mengikutiku?" ucapku pelan
alif tak menghiraukan ku bahkan dia berjalan didepanku seolah tak ada aku dibelakangnya, tak menoleh sedikitpun
"Aliif.."
"Aliiiif" suaraku agak meninggi
aku mengibaskan tanganku ke lengan alif, tapi terhenti ketika mendengar jawaban "Iya, aku mengikutimu.." jawabnya
Alif malah semakin mempercepat langkah kakinya seolah dia tau aku juga akan mempercepat langkah kakiku, di jalan reramaian itu aku menatap orang-orang bagaikan cepat berlalu, yang aku lihat hanyalah Riyan didepanku, kepala ku terhenti menatapnya bahkan tak terkedipkan.
"Wil..tolong kembalilah ke aku.." ucapnya memohon
"aku tak seburuk yang kamu kira wil.."
"Aku..akuu..ak bisa jelasin semuanya sejelasnya.."
Tak kusadari air mataku terjatuh dihadapannya, bulir air mata ku bergilir saling menggantikan, aku tak sanggup berkata, hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Alif, kemana kamu?" seruku dihati
"Wil..tolong.."
"Wil, AYOO...!!!" terdengar suara itu amat dekat disamping ku, aku tertoleh dengan cepatnya.
"Pergi dari sini" ucap alif
akupun langsung melangkah pergi meninggalkan riyan sendiri, terlihat alif masih tetap berdiri disana dan memperhatikan langkahku yang perlahan meninggalkan mereka.
***
"Assalamu'alaikum.." Terdengar dari kamar tidurku salam sekiranya dari lelaki paruh baya.
"Waalaikumsalaam.." jawab ibu
aku masih malas-malasan dikasurku,bahkan aku masih belum mellupakan kejadian aku bertemu riyan kemarin, hmm sungguh masih teerbayang, kenangan yang aku dan riyan lakukan. masih sangat tergiang.
"Wildaa..." seruan ibu
"I..iya bu.." ucaapku sembari berlari membukakan pintu kamar
"Kamu belum mandi?"
"Belum.."
"Mandi sekarang.."
"emang ada apa?"
"Ada tamu.."
"loh, kan tamu ibu.."
"Ini tamu kita"
"Ih.. kok Aneh bu..?"
"Sudah, mandi sana"
"i..iya buu.."
***
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam" Suara ramai menjawab salamku
kepalaku berkerut melihat tamu yang datang, Alif, ngapain alif datang kesini dengan semua keluarganya, aku terdiam tak berani berkata.
"duduk dulu" ucap ibu sambil memegang bahuku
aku terduduk pelan, disamping ibuku
"langsung saja wil, kami telah menyampaikan maksud kedatangan kami kepada keluargamu, sekiranya bagaimana dengan kamu?"
"maaf pak, ini tentang apa ya?" aku masih sangat tak mengerti, terlihat alif disamping ibu nya terdiam terpaku
"jadi, maksud kami datang kesini untuk menemani alif bicara serius dengan kamu"
"ooh, jadi kamu ingin menyampaikan apa kepadaku lif?"
"ehm... bolehkah aku bicara sekarang? pak, buk?" ucapnya melihat kearah ibu dan bapaknya, terlihat keluarganya tersenyum. "Jadi, begini wil, aku Alif al Fatah, ingin melamarmu untuk menjadi istriku"
mendengar ucapan itu aku tertegun, bagaimana mungkin aku bersuamikan orang yang tak seiman dengan ku,? apakah ibu dan ayahku telah mengetahui tentang hal ini semua. aku tak menjawab hanya diam dan berkerut kening.
"Wil.. kamu memikirkan apa?, ketahuilah wil, aku telah memeluk agama mu juga.."
mendengar ucapan itu aku langsung terangjat daguku melihat kearah alif, dengan ekspresi kaget dan tak percaya. bagaimana mungkin ini benar terjadi kepadanya? dia yang selalu menanyakan semua tentang agamaku ternyata ia belajar dari ungkapanku itu, ia yang tak pernah membahas ibadahnya yang hanya mengecek ibadahku.
"wil. ketahuilah, aku memenuhi permintaanmu pada saat kamu bertemu si dia, orang yang telah menyakitimu... kamu memintaku untuk membawamu pergi darinya, dan inilah caraku.." ucapnya tertunduk dengan wajah memerah
"terimakasih lif, tapi aku tidak percaya kamu melakukan ini semua" ucapku tak percaya, alif hanya menunduk tak terangkat kepalanya. aku hanya terdiam dengan seribu kata yang tersimpan didalam hatiku. disaat itu tercipta suasana hening tanpa kata, hembusan angin pun seolah menghilang. tetesan air hiasan rumahku berubah menjadi suasana senduh untuk keluarga alif. aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. apa yang harus aku lakukan untuk alif. aku belum menemukan jawabannya
"Ekhem.." suara batuk itu menghancurkan keheningan. siapa yang mengira si riyan datang sendiri disaat waktu yang sangat tidak tepat ini. melihat dia yang datang entah kenpa aku tertarik untuk memandang alif.
"siapa ya?" ucap ibuku
"Oh saya riyan bu"
"mau cari siapa ya anak?"
"hemm.. engg...nggak bu" jawabnya terbata
"loh yang bener kamu"
"saya sallah rumah.."
langsung riyan pergi meninggalkan rumahku
entah mengapa air mata mulai menetes di pipiku, entah apa yang aku rasakan, yang aku tau, sebenarnya aku telah mencintai alif walaupun hanya benih yang kecil
"Alif...." panggilku pelan, semua pihak keluarga terpacu ke arahku
"Aku Menerimamu..."
Terlihat alif menarik nafas panjang legah nya.. semua keluarga bersyukur dengan cara agamanya masing-masing.
****
Mojokerto, 11 Juli 2018