Minggu, 21 Februari 2021

Untuk Generasi


Wahai manusia yang disana

Yang masih berteriak akan maunya kedamaian

Bodohkah yang mereka lakukan

Berdemo dihadapan pemerintah yang tuli akan keadilan

Dengan hukum yang bisa dibeli

Wahai manusia yang disana

Berhentilah kalian berbodoh rupa

Ingatlah sebuah kemajuan diri yang kalian punya

Tunjukan semuanya saat waktu berbicara

Jadilah orang yang memperjuangkan kebenaran

Ciptakan perdamaian ditanganmu

Hapuskan semua perselisihan yang terjadi

Karna kamu

generasi masa depan


Senin, 06 Agustus 2018

Cinta Benalu

Air yang mengalir tak selamanya menjernihkan
bagaikan aku tanpa dia
bernafas tersengah setengah menyebut namamu
siapa yang menyangka cinta ini akan abadi..?

di benalu seuntai kertas nan kosong
wajah muka tergambar tersenyum disana
ingin berhenti namun tak bisa

tunas yang tumbuh sudah terlanjur melebihi ukurannya
aku berharap dia tetaplah dia
seberapa lama kebersamaan yang telah berjalan
aku berharap dia tetaplah dia

jangan takut ..!
itu katanya kepadaku yang selalu berkata aku takut..

di untaian tasbih yang ku keluhkan kepada Robbi 
hati menangis bersalah kepadanya
aku menduakan cinta tuhanku
hanya untuk mencintai makhluknya

ilahi robbi
cinta anugrah katamu
tapi cinta yang aku punya adalah kesalahan 
mencintai hal harom



Mojokerto, 06 Agustus 2018
Nurul Izzah
#AnnurAlizzahAssholihin

Rabu, 11 Juli 2018

Bukan Ending Liku

Awan membiru pertanda cahaya terik matahari pada saat ini. Aku hanya terduduk bersimpuh dikursi kampus samping taman yang ada. Hanya sendiri tanpa teman, aku juga sudah terbiasa dengan seperti ini, sehingga mereka membicarakan ini dibelakangku, yang keanehan diriku yang tak bisa bergaul, bukan aku tak bisa bergaul hanya saja mereka yang tak bisa bergaul dengan cara yang benar, itulah pikirku.
Kebanyakan pertemanan yang aku kenal hanya ada maunya aja, mau uangnya, mau bully nya, mau maunya pokoknya. Hmm aku nyaman dengan seperti ini, tapi tidak dengan hatiku, aku tak ada tempat bertanya dan tempat mengadu.
"Wei wildaaaaa" seru lelaki itu sembari duduk disampingku, dan menghancurkan lamunan ku

"Eh..eh.. " refleks ku berkata

"Hahaha, kamu aneh" ucapnya.
Aku berdiri dan langsung meninggalkannya menuju kampus
"Wil..wil..aku cuman bercanda, jangan marah dong"
"Kamu siapa sih? Aku saja tidak mengenalmu, kenapa selalu mengganggu ku?" jawabku dengan nada tinggi dan jari telunjukku menunjuk kearahnya
Terlihat si cowok tenang-tenang saja "oh iya, namaku Alif, panggil aku al saja" sembari tersenyum
Aku terdiam mendengar jawabannya, nih orang bukannya malah marah atau pergi malah memperkenalkan dirinya dan tersenyum semanis itu didepanku
"Hei...wildaaa" ucapnya menghancurkan lamunanku lagi.
"I..iyaa" jawabku dan langsung lari.
Melihat ekspresiku, terlihat alif seperti kebingungan, entah binggung karena apa dia seolah tertegun dan tak berfikir sejenak.


***

Seperti biasa, setelah dari taman aku selalu menuju kelasku baik ada jam belajar ataupun tidak, aku tak tau maksud alif yang selalu menganggu ku, sebenarnya aku tau namanya Alif alfatah, gimana tidak mengenalinya, dia adalah mahasiswa yang disukai banyak mahasiswi sini, walaupun aku tidak sih. Tapi aku penasaran kenapa sih dia mendekati ku terus, dimanapun, hmm apasih maunya anak itu..
"tuuut..tutttt...tuut"
"Eh, hp luh bunyi dari tadi" kata cewek yg sekelas denganku
"Eh..iya ma.. Makasih" jawabku terbatas kaget.
Terlihat disana tertulis nomor pribadi, tak tercantum nomornya apalagi namanya, hampir setiap hari nomor ini menelpon ku, tapi tak pernah aku angkat.
"Hei, kamu ngapain hanya terdiam, angkat telpon mu" ucap cewek tadi dengan nada tak senang
"Eh iyaa" jawabku dan langsung mengangkat telfon ny
"Hallo.. Assalamualaikum" ucapku
"Wa'alaikumsalam wil" suara itu menyahut dari telfon, aku terdiam sejenak, aku mengenali suara ini, bahkan sangat mengenalinya
"Wil..wildaaa..wilda wildaan" ucapnya lagi dengan nada merayu.
Aku terdiam, hanya diam yang aku lakukan, kaki yang tak bergerak, bahkan terasa mati sejenak, tak kusadari air mataku menetes membasahi pipiku, teringat semua tentang dia, kebersamaan yang kami lakukan berdua, saat pendakian, saat bermain air dipantai, sebuah senyum dan tawa ketulusan yang aku punya saat bersamanya. Tapi, ia malah pergi meninggalkanku dengan orang lain, tanpa aku tau kesalahanku. Dan inilah alasan aku semuanya untuk menutup diriku.
"Wil..kamu masih disana?" suara dari telfon itu.
Kumatikan telfon nya, dan tak tahan aku menahan tangisku lagi, terduduk aku dilantai kelasku, menangis dengan kenangan yang masih terbayang dipikiranku. Kenapa dia kembali datang?? Itulah pertanyaan dihatiku, aku sudah terlalu sakit dengan semuanya, sehingga aku mengurung diri sendiri bahkan hati ini juga. Kenapa dia dengan mudahnya kembali, seolah dia tanpa ada kesalahan denganku, seolah dia tidak tau perasaanku dulu ke dia. Entah apa yang aku rasa sekarang, senang, sedih, sakit apapun itu aku tak tau, yang aku mau hanyalah menangisi semua kenangan yang sudah aku buat dengannya, menyesal mengenal dia yang sudah membuatku mengenal hati yang patah. Sungguh sesal nya..
"Wil...wilda.." ada yang berseru namaku dari depan kelas. Aku mendengarnya, tapi aku sudah tidak kuat mengangkat kepalaku, melihatnya
"Wildaaa.. Kamu tidak apa-apa?" serunya lagi..
Aku merasa lemas, lemas sekali.. Nafasku mulai tak beraturan.
Terdengar suara kaki nya mendekat, dan menyentuhku untuk melihat keadaanku, tapi aku tak sadarkan diri .
"Wilda..wil..kamu kenapa" tanya nya sambil menyentuh lembut pipiku.
Aku hanya bisa melihatnya dengan kunangan, tak jelas yang aku lihat , yang aku tau dia adalah lelaki.
"Hmmm" aku hanya bisa berkata hmm, mulutku terasa berat untuk berbicara, mataku terasa berat untuk kubuka, badanku pun tak sanggup kutompang sendiri.
Terasa dia menggendongku, entah membawa kemana, aku sudah tak sadarkan diri lagi.
***
Hari itu, aku letih, tak bisa menahan emosi diri yang terus menangisinya, hingga menghabiskan semua tenagaku dengan tangis.
Tapi tidak dengan hari ini, aku harus membangkitkan diriku, seperti biasa aku terbiasa dengan penyemangat dari diriku sendiri, melihat ke jendela itu, ternyata matahari telah tersenyum dengan sinarnya, walaupun aku tau sinarnya akan hilang seperti dia yang hilang, tapi aku juga sadar akan ada bulan yang menemaniku sampai aku terlelap tapi ia juga akan menghilang, dari situ aku berkesimpulan, didunia ini tak ada yang setia baik teman ataupun lelaki kepada perempuannya. Aku berusaha tersenyum di tidur dan letihnya diri ini.
Aku binggung, dimana aku sekarang, terdiam aku dengan melirik sana kemari mengenali diaman aku sekarang, terlihat disamping kananku ada meja kecil dan sebuah gelas berisikan air putih yang terdapat note yang tertulis disana "Aku meminta, Tersenyumlah untuk hari ini". Aku binggung dari siapa note itu, bahkan aku tak mengenali tulisan itu, sambil aku berpikir dan mengenali tempat ini, ternyata ini adalah UKS kampus ku, baru kali ini aku masuk uks. Tapi siapa yang membawaku, apa aku tertidur seharian kemarin. Hmm.. Ada banyak tanya yang aku butuh jawabnya.
" indah...gimana keadaannya sekarang?" terdengar suara itu dari depan ruanganku
" wilda yah? Dia hanya keletihan saja kok" jawab wanita itu
"Bolehkah aku melihatnya" ucap pria itu, suaranya belum kukenali, dan berusaha untuk mengenalinya
"Sekarang dia tidak berkerudung, kuharap kamu mengerti, seharusnya sih dia sudah sadarkan diri" jawab wanita itu
"Oh ya sudah, ku titip dia yah, aku mau beli sarapan dulu"
"Oh iya.." jawabnya
....
"Cekreek..." suara pintunya dibukakan
Mataku langsung tertuju pada wanita yang berseragam putih yang mendekat kearahku
"Hei, wilda, gimana keadaanmu?" tanya nya sambil tersenyum padaku
"Baik" jawabku
"Kamu tak ingin bertanya?" tawarnya
"Tidak" jawabku
"Ternyata benar kata mahasiswa lain yah, kamu orangnya sulit ditebak..."
"Teruuus...?" lanjut ku
"Aku heran, kenapa dia mau membantumu" jawabnya
"Siapa???"
Aku langsung terduduk dan melepaskan infus ku, aku baru teringat bahwa yang membantuku adalah seorang lelaki, yang belum aku ketahui
"Eh, kamu..!! Kalau tidak menerima bantuan orang, jangan menyiksa diri sendiri seperti ini.." ucapnya sembari menahan darah yang jeluar dari bekas infusku. "Dia sedang membeli sarapan untuk kamu, paling sebentar lagi dia datang" lanjutnya.
"Mana handphone ku?" tanyaku gugup, tanpa pedulikan darah yang terus keluar dari tanganku.
"Ini..." wanita itu mengeluarkan handphone ku dari sakunya "pesan orang yang membantumu sih tidak boleh diberikan ke kamu dulu, tapi kamu memintanya, jadi aku berikan saja" jawabnya tersenyum
"Terimakasih" ucapku. Kulihat handphone ku, sudah mati. Aku menghela nafas, dengan penuh pertanyaan lagi, termenung yang entah memikirkan apa, yang aku tau aku tidak terima dengan kembalinya lelaki itu dihidupku. 
"Assalamualaikum..." suara itu menghancurkan lamunanku, membuat aku menyorotkan pandangku kearahnya.
"Wa'alaikumsalam.." jawabku serentak dengan penjaga uks itu.
"Gimana keadaanmu wil.." tanya nya padaku
"Baik" jawabku, dengan berusaha mengenali lelaki ini
"Kenapa matamu seperti itu..?" tanya nya sambil heran
"Nggak.." jawab ku tak peduli
"Oh iya.. Kacamata mu yah.."ini.." katanya sambil memberikannya padaku.
Aku langsung mengambil kacamata itu,  tapi begitu lamban tanganku untuk ku angkat sendiri dan mengambil kacamata itu, sehingga dia, Lelaki yang membantu ku memasangkan kacamata itu kepadaku. Aku mengedip-edip kan mataku, terlihat lelaki itu tepat didepan mataku, bermata minimalis, dengan hidung mancungnya, putih bersih kulitnya sembari tersenyum manis padaku.
"Astagfirullah.." ucapku kaget, dan tertunduk, tersadar aku salah melakukan pandangan itu.
Aku tak berani lagi mengangkat kepala ku untuk melihatnya, ternyata dia yang membantu ku, orang yang selama ini aku kasar kan dengan tolakan permintaan untuk berteman denganku, ternyata dia sudih membantu ku. Tapi, dia lelaki, aku takut berteman pada lelaki, apakah tidak apa jika aku menerima dia sebagai temanku, pikirku..




***

"Alif Al Fatah.. Kenapa namamu, nama islam? " tanyaku
"karena sebenarnya ibuku orang islam, tapi setelah mengenal ayah ku dan menikah, ibuku lidahnya agama.."
"lalu, siapa yang memberi kan nama itu ke kamu?"
"ibuku" jawabnya tersenyum dan terhenti langkahnya dan menatap wajahku..
"Kamu kenapa manatapku seperti itu?"
"Kamu mengingatkan aku ke ibuku"
 Tersipu aku dan tertunduk pandangku, aku jadi memiliki rasa takut saat bersama alif, aku takut aku memiliki perasaan sama dia yang tak bisa aku bendung sendiri, aku takut hingga akhirnya aku meminta pertanggung jawaban atas rasa yang telah aku miliki kepadanya. 
"Ya allah, jaga selalu hatiku hanya untuk mu dan rasulku, hanya kepada dua itu untuk saat ini" ucapku didalam hati,
Aku tak lagi menghiraukan alif, entah apa yang aku rasakan saat itu, aku berjalan sendiri menuju arah yang tak tau kemana yang akan aku tuju. terdengar olehku seruan dari mulut kecil nan tipis miliknya , tapi tak ku hiraukan itu semua, aku yang berjalan dengan cepat diiringi dengan langkah lari kecilnya Alif dibelakang ku. Dia seolah tak pernah bosan mengejarku yang selalu berusaha menjauh darinya, bagaimana jika aku tertaruh hati kepadanya, bagaimana dengan agama yang aku pegang erat Al-Qur'an dan Hadist yang aku miliki, apa aku juga akan seperti ibunya yang ia ceritakan, keluar dari agama ini lalu menikahi orang beragama lain dan masuk ke agama itu?. Bagaimana, bagaimana dan bagaimana itulah yang aku pikirkan. 
Di sepanjang jalan, aku mulai letih dengan langkah cepat ini, terdengar langkah kaki alif masih ada dibelakangku, aku tertarik untuk menoleh kearahnya namun aku hanya berani dengan tunduk melihat sepatu berukuran besar dengan warna kusam itu.
"Greeeek..." langkah kaki ku terhenti pada satu titik, dengan seorang lelaki didepanku dan alif dibelakangku. aku mulai mengenali lelaki itu dengan urutan kakinya, kaki itu, dengan sepatu yang sama pada tahun lalu, terlihat tak berdebu bahkan terkilah dengan warna coklat kulit itu, kaki yang panjang, dengan dada yang kekarnya. Ternyata dia, dia yang selalu meneror ku selama ini di telpon, aku menatap tak sudih padanya, kupalingkan mukaku dari wajah sok manisnya itu. dia bernama Riyan, Yayan ku memanggilnya.
"Wil..." alif menyeru pelan
aku menganguk tak berkata
"Wil, kamu apa kabar?" tanya yan
"Baik" aku tertunduk
"Kamu udah berubah ya?"
"Begitulah.."
"Hei Perkenalkan, Namaku Alif." ucap alif mencoba mencairkan suasana sembari menyodorkan tangannya ke arah riyan.
"Eh iya, aku Riyan.." menyambut tangan alif
"Ooh..Teman wilda yah?"
"Iya, .." tersenyum tak enak
"Alif, ayo temani aku" ucapku
"Kemanaa..?"
tak dijawab sepatah katapun oleh wildaa, dia langsung menarik lengan baju panjangnya alif, melihat mereka seperti itu, Riyan terlihat sangat Tidak suka.
"Wiwil.." Panggil riyan
Aku tersentak berhenti lagi pada satu titik itu, tak bergerak bahkan alifpun berhenti melangkah, begitupun dengan mulutku, namun terlihat mulut alif ingin berkata yang tak sampai
"Aku Rindu..." ucapnya
"Wil... Aku rindu kamu.." ucapnya lagi
aku hanya terdiam menunduk, bahkan badanku tak mengarah ke arahnya
"aku tau, dulu aku salah, aku salah banget sudah ninggalin kamu begitu aja, aku minta maaf wil.."
"Alif, tak bisa kah kamu bawa aku pergi jauh dari lelaki ini?" ucapku
Alif hanya terdiam melihat ku dengan riyan, dia seolah tak mendengarkan apa kataku tadinya.
"Alif..!" Sentakku dengan nada tinggi
"Bahkan sejauh yang kau mau wil" jawabnya tenang, sembari berjalan sendiri didepanku, dan aku mengikutinya, aku berusaha tak menoleh ke arah lelaki tadi, lelaki yang dahulu kuanggap selalu membuatku senang dan mengerti dunia, bahkan dia yang ku anggap sebaik-baik lelaki, sekarang aku menyesal sesalnya mengingat dulu pernah mengenalnya, jalanku sangat pelan, aku tak akan pernah kembali kepadanya, bahkan kapanpun.
"Alif, cobalah lihat kebelakang, apakah dia masih mengikutiku?" ucapku pelan
alif tak menghiraukan ku bahkan dia berjalan didepanku seolah tak ada aku dibelakangnya, tak menoleh sedikitpun
"Aliif.."
"Aliiiif" suaraku agak meninggi
aku mengibaskan tanganku ke lengan alif, tapi terhenti ketika mendengar jawaban "Iya, aku mengikutimu.." jawabnya
Alif malah semakin mempercepat langkah kakinya seolah dia tau aku juga akan mempercepat langkah kakiku, di jalan reramaian itu aku menatap orang-orang bagaikan cepat berlalu, yang aku lihat hanyalah Riyan didepanku, kepala ku terhenti menatapnya bahkan tak terkedipkan.
"Wil..tolong kembalilah ke aku.." ucapnya memohon
"aku tak seburuk yang kamu kira wil.."
"Aku..akuu..ak bisa jelasin semuanya sejelasnya.."
Tak kusadari air mataku terjatuh dihadapannya, bulir air mata ku bergilir saling menggantikan, aku tak sanggup berkata, hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Alif, kemana kamu?" seruku dihati
"Wil..tolong.."
"Wil, AYOO...!!!" terdengar suara itu amat dekat disamping ku, aku tertoleh dengan cepatnya.
"Pergi dari sini" ucap alif
akupun langsung melangkah pergi meninggalkan riyan sendiri, terlihat alif masih tetap berdiri disana dan memperhatikan langkahku yang perlahan meninggalkan mereka.
***

"Assalamu'alaikum.." Terdengar dari kamar tidurku salam sekiranya dari lelaki paruh baya.
"Waalaikumsalaam.." jawab ibu
aku masih malas-malasan dikasurku,bahkan aku masih belum mellupakan kejadian aku bertemu riyan kemarin, hmm sungguh masih teerbayang, kenangan yang aku dan riyan lakukan. masih sangat tergiang.
"Wildaa..." seruan ibu
"I..iya bu.." ucaapku sembari berlari membukakan pintu kamar
"Kamu belum mandi?"
"Belum.."
"Mandi sekarang.."
"emang ada apa?"
"Ada tamu.."
"loh, kan tamu ibu.."
"Ini tamu kita"
"Ih.. kok Aneh bu..?"
"Sudah, mandi sana"
"i..iya buu.."

***

"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam" Suara ramai menjawab salamku
kepalaku berkerut melihat tamu yang datang, Alif, ngapain alif datang kesini dengan semua keluarganya, aku terdiam tak berani berkata.
"duduk dulu" ucap ibu sambil memegang bahuku
aku terduduk pelan, disamping ibuku
"langsung saja wil, kami telah menyampaikan maksud kedatangan kami kepada keluargamu, sekiranya bagaimana dengan kamu?"
"maaf pak, ini tentang apa ya?" aku masih sangat tak mengerti, terlihat alif disamping ibu nya terdiam terpaku
"jadi, maksud kami datang kesini untuk menemani alif bicara serius dengan kamu"
"ooh, jadi kamu ingin menyampaikan apa kepadaku lif?"
"ehm... bolehkah aku bicara sekarang? pak, buk?" ucapnya melihat kearah ibu dan bapaknya, terlihat keluarganya tersenyum. "Jadi, begini wil, aku Alif al Fatah, ingin melamarmu untuk menjadi istriku"

mendengar ucapan itu aku tertegun, bagaimana mungkin aku bersuamikan orang yang tak seiman dengan ku,? apakah ibu dan ayahku telah mengetahui tentang hal ini semua. aku tak menjawab hanya diam dan berkerut kening.
"Wil.. kamu memikirkan apa?, ketahuilah wil, aku telah memeluk agama mu juga.."
mendengar ucapan itu aku langsung terangjat daguku melihat kearah alif, dengan ekspresi kaget dan tak percaya. bagaimana mungkin ini benar terjadi kepadanya? dia yang selalu menanyakan semua tentang agamaku ternyata ia belajar dari ungkapanku itu, ia yang tak pernah membahas ibadahnya yang hanya mengecek ibadahku.
"wil. ketahuilah, aku memenuhi permintaanmu pada saat kamu bertemu si dia, orang yang telah menyakitimu... kamu memintaku untuk membawamu pergi darinya, dan inilah caraku.." ucapnya tertunduk dengan wajah memerah
"terimakasih lif, tapi aku tidak percaya kamu melakukan ini semua" ucapku tak percaya, alif hanya menunduk tak terangkat kepalanya. aku hanya terdiam dengan seribu kata yang tersimpan didalam hatiku. disaat itu tercipta suasana hening tanpa kata, hembusan angin pun seolah menghilang. tetesan air hiasan rumahku berubah menjadi suasana senduh untuk keluarga alif. aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. apa yang harus aku lakukan untuk alif. aku belum menemukan jawabannya
"Ekhem.." suara batuk itu menghancurkan keheningan. siapa yang mengira si riyan datang sendiri disaat waktu yang sangat tidak tepat ini. melihat dia yang datang entah kenpa aku tertarik untuk memandang alif.
"siapa ya?" ucap ibuku
"Oh saya riyan bu"
"mau cari siapa ya anak?"
"hemm.. engg...nggak bu" jawabnya terbata
"loh yang bener kamu"
"saya sallah rumah.."
langsung riyan pergi meninggalkan rumahku
entah mengapa air mata mulai menetes di pipiku, entah apa yang aku rasakan, yang aku tau, sebenarnya aku telah mencintai alif walaupun hanya benih yang kecil
"Alif...." panggilku pelan, semua pihak keluarga terpacu ke arahku
"Aku Menerimamu..."
Terlihat alif menarik nafas panjang legah nya.. semua keluarga bersyukur dengan cara agamanya masing-masing.

****
Mojokerto, 11 Juli 2018




Kamis, 11 Januari 2018

Menghitung Kepastian Darimu



Menghitung Kepastian Darimu

Aku dan dia telah lama berpisah, bukan karna kami membenci tapi karna perasaan inilah aku dan dia berpisah dengan jarak berkilo-kilo meter jauhnya. Karna kami mempunyai janji sendiri dalam diri kami, yaitu mencari kebahagiaan terlebih dahulu barulah kami akan bertekad untuk bersama, dia disana mempelajari dunia dan akhirat untuk bisa menuntunku, dan aku disini terus memperbaiki diri untuk bisa menjadi istri yang solehah untuknya. Namun tak ada kepastian yang diberikan olehnya. Disinilah yang membuat aku tak yakin padanya, suatu hari aku berkontak dengannya disitu ia hanya menanyakan kabarku, aku tak mau terlalu banyak bicara kepadanya karna saat itu aku sedang menahan rinduku, rinduu, sungguh sangat rindu, seandainya ia mengerti dengan apa yang aku rasakan mungkin ia bisa mengerti maksudku.

“Imah..! Bolehkah aku meminta photo mu yang sekarang?Kata Denis kepadaku.

Sunggu aku tertegun dengan pesan yang ia kirim kepadaku, aku senang, karna aku berfikir bahwa ia juga merindukanku.

“Untuk apa den..?bukankah kau sudah mempunyai photo ku?. Begitu jawabku dengan hati gembiranya, namun aku tetap gengsi untuk mengakuinya, karna aku berusaha untuk menjadi muslimah sebenarnya.

“Hahaha.. Imah..Imaah, itu photo tahun brapa yang aku punya?, dan sekarang udah 2016, bisa jadi aku tak mengenal wajahmu sekarang, sebagai gantinya, aku juga akan memberikan photoku untukmu.” Jawab denis

“okelah, ini photo ku” kukirim photoku bersama teman teman pengabdian ku dipondok. Disitu aku sangat senang, serasa mau terbang kelangit 9 hehe.

“wah cantik-cantik temanmu sekarang, tapi yang mana kamu, oh iya ininih photo aku” kata denis

Aku tersenyum saat melihat photo dia, sungguh ia tak berubah, dengan senyum manisnya dibibirnya, lesung pipinya,hitam manisnya, mata jernihnya dan peci hitam nya. “iya Alhamdulillah. Ooh syukurlah kau tak mengenaliku disana, aku adalah yang paling jelek disana hehe” candaku kepadanya.

Dan taraaaaa..ia tak membalas pesanku lagi, aku kesepian aku menyendiri, kemana ia? Padahal aku ingin menanyakan kepastian dengannya.

            Hari begitu cepat berganti tak terasa udah idul fitri, yang aku tau kabar denis adalah tahun ini ia tak pulang kampung, aku terima itu semua mungkin ia mau mencari suasana baru, tapi aku berpikir, tega sekali ia membiarkan aku dengan tanpa kepastian darinya, denis..aku merindukan mu, hatiku terus berkata begitu, ooh imah bodohnya kamu mah, mengharapkan makhluk ilahi yang satu ini tanpa pernah kau ketahui isi hatinya. Di hari pertama idul fitri ini aku hanya menangis menyendiri dikamarku, memegang erat handphone ku, dengan wallpaper photo dia. Aku berdoa kepada allah, semoga allah menghapuskan rasa cintaku kepadanya. Karna mencintai makhluk allah itu sangat menyakitkan.

“Imah..kenapa kamu nak?” Tanya umiku dan mendekat padaku

Aku terkejut mendengar suara umiku “Eh.umi, ngak kenapa-napa kok mi” jawabku dengan menghapus air mata ku dan terpaksa tersenyum didepan umiku.

“Menangis lah mah, umi mengerti kamu kok, kamu merindukan si mas jawa mu itu ya?” umi berkata dengan suara agak menggoda.

“hmmm..umi, jangan bilang begitu, dia bukan orang jawa, bapak ibunya yang orang jawa” jawabku dengan tersenyum pada umiku.

“Yasudah, gih sholat dzuhur lagi, berdoa sama allah agar diberikan hambanya yang bernama Denis Purnomo itu untuk Imah Hardianti ini” Kata umi dengan tertawa.

            Aku meninggalkan umiku dikamarku karna aku merasa malu sendiri pada umiku, selesai sholat aku kembali ke kamarku, kulihat kembali handphone ku, dan ternyata ada pesan dari Denis yang berisi

“Jangan lupa doakan aku ya mah” begitulah pesan singkatnya dengan emoticon tertawa

Aku terkejut dengan pesan darinya, aku mulai membalas “Ngak bakalan aku doain kamu den” jawabku dengan miris.

“Looh, kenapa Imah Hardianti anaknya bu marianti, bukankah kamu tak pernah melupakan aku si denis manis ini” jawab denis dengan PD nya.

“Males aku ngeladenin kamu den” jawabku dengan kesal.

Aku langsung keluar dari kamarku dan menuju ruang tengah tempat biasa keluarga ku berkumpul, dan  di depan rumah ku aku melihat 2 mobil yang tak ku kenali. Aku bertanya-tanya namun aku tetap melangkah keruang tengah. Toks..toks..toks. aku terkejut melihatnya. Ternyata itu adalah denis, denis yang barusan menghubungiku dan yang katanya tidak akan pulang kampung, tak tahan aku dengan pertemuan ini, air mata ku membendung, dan aku tak sanggup melihat wajah denis, aku berlari kembali memasuki kamarku, kembali lagi aku menangis sejadi-jadinya, kenapa ia membohongi aku, kenapa ia tiba-tiba hilang, dan kenapa dia tiba-tiba datang kembali. Kepalaku terasa berputar-putar memikirkannya. Saat aku menangis terdengar suara pintu kamarku ada yang membukanya, aku berpikir, itu pasti umiku lagi yang akan menghiburku, aku terus menangis dengan mengenggam photo denis ditangan ku.

”Hey.. Imah Hardianti..”

Aku terkejut mendengar suara itu, siapa dia kenapa suara nya rada-rada aku mengenalnya, dan aku menoleh kebelakang, dan ternyata ia adalah denis, tak sanggup aku menahan semua ini, menangis sejadi-jadinya aku didepan denis, aku tak tau kenapa rasa gengsi itu hilang saat denis benar-benar berada didepan mataku mungkin ini karna aku baru kali ini bertemu kembali dengannya setelah 6 tahun berpisahnya kami, ia tetap menatapku dengan senyum manisnya, dan aku tetap dengan suara tangisanku menatapnya, dan tak kusadari aku memeluk denis, erat, sangat erat.

“Imaah, kenapa kau memelukku, kita belum Muhrim imah..? kata denis dengan berusaha melepaskan pegangan tangan imah ke tubuh denis.

“Kenapa den..? kenapa kau memperlakukan aku begitu?” tanyaku dengan tangis.

“Aku hanya malu Imah..” jawab denis

“Malu kenapa den, apa aku tak pantas untuk mu?” imah tak sengaja berkata begitu, dan ia semakin menangis.

“Cobalah kau lihat ke dinding-dinding kamarmu ini..Tak malukah kamu dengan ayat-ayat suci allah ini..?” denis berkata dengan senyumnya

“Hmm..aku melupakannya saat kau datang kesini”.. jawab imah

“Kemana ilmu mu imah? Karna hanya dengan melihatku kau menjadi lemah, tak seperti dulu lagi yang selalu tertawa, menggamparku, menjahiliku bahkan kau menjadi musuh terbesarku dahulu” jawab denis dengan tersenyum.

“semua itu berubah saat kau pergi jauh dariku” jawab imah dengan suara yang kecil.

“Ya..begitulah dengan aku mah, aku merasa, semakin kita berjauhan, dan semakin lama kita tidak bertemu aku merasa mengumpulkan beribu-ribu rindu, bribu-ribu cinta untukmu” Jawab denis mulai serius.

Aku terrkejut dengan jawaban denis , aku senang, dan aku sangat terharu, tak sanggup aku melihat wajahnya lagi, tak sanggup aku menjawab kata-katanya lagi.

“Imah, jangan sentuh aku sebelum kita halal, bukan hanya kamu menahannya, aku juga menahannya, aku menahannya saat aku jauh darimu untuk bisa mengirimkanmu pesan ku, aku menahannya saat aku merindukanmu, aku berusaha agar cinta ini berkurang kepadamu, namun ia malah membukit, setiap sepertiga malamku aku menangis hanya karna mu, kenapa allah memberikan rasa cinta ku ini sangat besar kepadamu..” denis mulai menjatuhkan air mata nya namun ia berusaha menutupinya didepanku.

Aku tak ingin banya bicara lagi, aku lngsung meninggalkan denis yang ada dikamarku, aku menuju ke kamar mandi, aku ingin berkaca dan membersihkan muka ku, karna terlalu bodoh jika ia kembali melihatku dengan bekas tangis hanya karna nya. Itu akan membuatnya berbangga  diri karna telah membuat aku menangisinya. Mungkin terlalu lama aku berada di dalam kamar mandi, sehingga membuat ibuku memanggil ku untuk keluar dan duduk di ruang tengah, aku pun keluar dengan berdoa agar denis telah pulang, namun begitu terkejut aku melihat denis masih ada, bahkan bersama kedua orang tuanya, dan aku terpaksa duduk disana karna ibuku yang meminta. Aku tertunduk, dan begitupun denis, taka da satu katapun terdengar dari mulut manisnya itu. Dan tiba-tiba ayah denis berkata

“Ooh jadi ini toh anak mu mar” kata ayahnya denis

“iya pak mur, ini imah, yang dulu sering bertengkar sama denis”.. jawab ibuku dengan tertawa

“Umi..apa-apaan sih?” Tanya ku dengan agak kesal

“ngak kenapa-napa kok mah, ayah hanya penasaran aja dengan wanita yang dipendam-pendam oleh denis selama ini” jawab ayah denis dengan tertawa.

Ha..apaa? Ayah? Kenapa ayah denis berbicara kepadaku dengan bahasa begitu, apa maksudnya semua ini? Begitulah prtanyaan yang ada dikepalaku.Dan aku menoleh kea rah orang tua ku dengan ekspresi bertanya-tanya.

”Imaaah..mungkin kamu binggung dengan kedatangan mreka dirumah kita, jadi abi ingin mengatakan nya kepadamu, ayah dan ibunya denis datang kesini dengan maksud untuk melamarmu, apa kamu menerimanya? Abi pikir sih kecil harapan untuk ditolak sama kamu” kata abiku dengan tersenyum-senyum

Aku kembali bertanya-tanya didalam pikiranku, haa..benarkan begitu, apakah begini cara orang mengkhitbah, aku serasa ingin melayang, taka da lagi kesedihan di dalam jiwaku setelah mendengar apa yang dikatakan abiku, dan aku tertunduk dengan senyumku. Ku rasakan bahwa denis melihat kearahku.

“Ooh mereka saat ini menggunakan bahasa tubuh yaa…!” kata umiku dengan maksud menggodaku.

“Ummiii..!” seru ku dengan manja

“Denis, coba kamu tanyakan langsung, mungkin imah menunggu kamu yang menanyakannya..” kata abiku..

Haa..denis, denis yang akan menanyakannya.. Ooh tuhaaan benarkah ini cinta sejati, benarkah ini cinta yang suci. Hatiku bertanya-tanya. Ku lihat tangan denis, jari-jemarinya gemetar membuat aku gugub berada didepannya.

“Imaaah..hmm Hay Imaaah.. Apa kamu mau menjadi yang halal untukku?’’ Tanya denis dengan gugub.

Aku tersenyum dan mengangukkan kepalaku. Lalu kutegakkan kepalaku, ku lihat senyum manis denis yang tak pernah kulihat bisa berbinar begitu. Ooh begitu legahnya aku mendapat kepastian itu, begitu manisnya rasa cinta yang allah berikan kepada hamba yang mencintainya, aku harap denis akan mengajarkanku juga untuk beristiqomah mencintai Allah dan juga Denis.. Suamiku


Jambi, 23 Mei 2016
Nurul Izzah