Kamis, 11 Januari 2018

Menghitung Kepastian Darimu



Menghitung Kepastian Darimu

Aku dan dia telah lama berpisah, bukan karna kami membenci tapi karna perasaan inilah aku dan dia berpisah dengan jarak berkilo-kilo meter jauhnya. Karna kami mempunyai janji sendiri dalam diri kami, yaitu mencari kebahagiaan terlebih dahulu barulah kami akan bertekad untuk bersama, dia disana mempelajari dunia dan akhirat untuk bisa menuntunku, dan aku disini terus memperbaiki diri untuk bisa menjadi istri yang solehah untuknya. Namun tak ada kepastian yang diberikan olehnya. Disinilah yang membuat aku tak yakin padanya, suatu hari aku berkontak dengannya disitu ia hanya menanyakan kabarku, aku tak mau terlalu banyak bicara kepadanya karna saat itu aku sedang menahan rinduku, rinduu, sungguh sangat rindu, seandainya ia mengerti dengan apa yang aku rasakan mungkin ia bisa mengerti maksudku.

“Imah..! Bolehkah aku meminta photo mu yang sekarang?Kata Denis kepadaku.

Sunggu aku tertegun dengan pesan yang ia kirim kepadaku, aku senang, karna aku berfikir bahwa ia juga merindukanku.

“Untuk apa den..?bukankah kau sudah mempunyai photo ku?. Begitu jawabku dengan hati gembiranya, namun aku tetap gengsi untuk mengakuinya, karna aku berusaha untuk menjadi muslimah sebenarnya.

“Hahaha.. Imah..Imaah, itu photo tahun brapa yang aku punya?, dan sekarang udah 2016, bisa jadi aku tak mengenal wajahmu sekarang, sebagai gantinya, aku juga akan memberikan photoku untukmu.” Jawab denis

“okelah, ini photo ku” kukirim photoku bersama teman teman pengabdian ku dipondok. Disitu aku sangat senang, serasa mau terbang kelangit 9 hehe.

“wah cantik-cantik temanmu sekarang, tapi yang mana kamu, oh iya ininih photo aku” kata denis

Aku tersenyum saat melihat photo dia, sungguh ia tak berubah, dengan senyum manisnya dibibirnya, lesung pipinya,hitam manisnya, mata jernihnya dan peci hitam nya. “iya Alhamdulillah. Ooh syukurlah kau tak mengenaliku disana, aku adalah yang paling jelek disana hehe” candaku kepadanya.

Dan taraaaaa..ia tak membalas pesanku lagi, aku kesepian aku menyendiri, kemana ia? Padahal aku ingin menanyakan kepastian dengannya.

            Hari begitu cepat berganti tak terasa udah idul fitri, yang aku tau kabar denis adalah tahun ini ia tak pulang kampung, aku terima itu semua mungkin ia mau mencari suasana baru, tapi aku berpikir, tega sekali ia membiarkan aku dengan tanpa kepastian darinya, denis..aku merindukan mu, hatiku terus berkata begitu, ooh imah bodohnya kamu mah, mengharapkan makhluk ilahi yang satu ini tanpa pernah kau ketahui isi hatinya. Di hari pertama idul fitri ini aku hanya menangis menyendiri dikamarku, memegang erat handphone ku, dengan wallpaper photo dia. Aku berdoa kepada allah, semoga allah menghapuskan rasa cintaku kepadanya. Karna mencintai makhluk allah itu sangat menyakitkan.

“Imah..kenapa kamu nak?” Tanya umiku dan mendekat padaku

Aku terkejut mendengar suara umiku “Eh.umi, ngak kenapa-napa kok mi” jawabku dengan menghapus air mata ku dan terpaksa tersenyum didepan umiku.

“Menangis lah mah, umi mengerti kamu kok, kamu merindukan si mas jawa mu itu ya?” umi berkata dengan suara agak menggoda.

“hmmm..umi, jangan bilang begitu, dia bukan orang jawa, bapak ibunya yang orang jawa” jawabku dengan tersenyum pada umiku.

“Yasudah, gih sholat dzuhur lagi, berdoa sama allah agar diberikan hambanya yang bernama Denis Purnomo itu untuk Imah Hardianti ini” Kata umi dengan tertawa.

            Aku meninggalkan umiku dikamarku karna aku merasa malu sendiri pada umiku, selesai sholat aku kembali ke kamarku, kulihat kembali handphone ku, dan ternyata ada pesan dari Denis yang berisi

“Jangan lupa doakan aku ya mah” begitulah pesan singkatnya dengan emoticon tertawa

Aku terkejut dengan pesan darinya, aku mulai membalas “Ngak bakalan aku doain kamu den” jawabku dengan miris.

“Looh, kenapa Imah Hardianti anaknya bu marianti, bukankah kamu tak pernah melupakan aku si denis manis ini” jawab denis dengan PD nya.

“Males aku ngeladenin kamu den” jawabku dengan kesal.

Aku langsung keluar dari kamarku dan menuju ruang tengah tempat biasa keluarga ku berkumpul, dan  di depan rumah ku aku melihat 2 mobil yang tak ku kenali. Aku bertanya-tanya namun aku tetap melangkah keruang tengah. Toks..toks..toks. aku terkejut melihatnya. Ternyata itu adalah denis, denis yang barusan menghubungiku dan yang katanya tidak akan pulang kampung, tak tahan aku dengan pertemuan ini, air mata ku membendung, dan aku tak sanggup melihat wajah denis, aku berlari kembali memasuki kamarku, kembali lagi aku menangis sejadi-jadinya, kenapa ia membohongi aku, kenapa ia tiba-tiba hilang, dan kenapa dia tiba-tiba datang kembali. Kepalaku terasa berputar-putar memikirkannya. Saat aku menangis terdengar suara pintu kamarku ada yang membukanya, aku berpikir, itu pasti umiku lagi yang akan menghiburku, aku terus menangis dengan mengenggam photo denis ditangan ku.

”Hey.. Imah Hardianti..”

Aku terkejut mendengar suara itu, siapa dia kenapa suara nya rada-rada aku mengenalnya, dan aku menoleh kebelakang, dan ternyata ia adalah denis, tak sanggup aku menahan semua ini, menangis sejadi-jadinya aku didepan denis, aku tak tau kenapa rasa gengsi itu hilang saat denis benar-benar berada didepan mataku mungkin ini karna aku baru kali ini bertemu kembali dengannya setelah 6 tahun berpisahnya kami, ia tetap menatapku dengan senyum manisnya, dan aku tetap dengan suara tangisanku menatapnya, dan tak kusadari aku memeluk denis, erat, sangat erat.

“Imaah, kenapa kau memelukku, kita belum Muhrim imah..? kata denis dengan berusaha melepaskan pegangan tangan imah ke tubuh denis.

“Kenapa den..? kenapa kau memperlakukan aku begitu?” tanyaku dengan tangis.

“Aku hanya malu Imah..” jawab denis

“Malu kenapa den, apa aku tak pantas untuk mu?” imah tak sengaja berkata begitu, dan ia semakin menangis.

“Cobalah kau lihat ke dinding-dinding kamarmu ini..Tak malukah kamu dengan ayat-ayat suci allah ini..?” denis berkata dengan senyumnya

“Hmm..aku melupakannya saat kau datang kesini”.. jawab imah

“Kemana ilmu mu imah? Karna hanya dengan melihatku kau menjadi lemah, tak seperti dulu lagi yang selalu tertawa, menggamparku, menjahiliku bahkan kau menjadi musuh terbesarku dahulu” jawab denis dengan tersenyum.

“semua itu berubah saat kau pergi jauh dariku” jawab imah dengan suara yang kecil.

“Ya..begitulah dengan aku mah, aku merasa, semakin kita berjauhan, dan semakin lama kita tidak bertemu aku merasa mengumpulkan beribu-ribu rindu, bribu-ribu cinta untukmu” Jawab denis mulai serius.

Aku terrkejut dengan jawaban denis , aku senang, dan aku sangat terharu, tak sanggup aku melihat wajahnya lagi, tak sanggup aku menjawab kata-katanya lagi.

“Imah, jangan sentuh aku sebelum kita halal, bukan hanya kamu menahannya, aku juga menahannya, aku menahannya saat aku jauh darimu untuk bisa mengirimkanmu pesan ku, aku menahannya saat aku merindukanmu, aku berusaha agar cinta ini berkurang kepadamu, namun ia malah membukit, setiap sepertiga malamku aku menangis hanya karna mu, kenapa allah memberikan rasa cinta ku ini sangat besar kepadamu..” denis mulai menjatuhkan air mata nya namun ia berusaha menutupinya didepanku.

Aku tak ingin banya bicara lagi, aku lngsung meninggalkan denis yang ada dikamarku, aku menuju ke kamar mandi, aku ingin berkaca dan membersihkan muka ku, karna terlalu bodoh jika ia kembali melihatku dengan bekas tangis hanya karna nya. Itu akan membuatnya berbangga  diri karna telah membuat aku menangisinya. Mungkin terlalu lama aku berada di dalam kamar mandi, sehingga membuat ibuku memanggil ku untuk keluar dan duduk di ruang tengah, aku pun keluar dengan berdoa agar denis telah pulang, namun begitu terkejut aku melihat denis masih ada, bahkan bersama kedua orang tuanya, dan aku terpaksa duduk disana karna ibuku yang meminta. Aku tertunduk, dan begitupun denis, taka da satu katapun terdengar dari mulut manisnya itu. Dan tiba-tiba ayah denis berkata

“Ooh jadi ini toh anak mu mar” kata ayahnya denis

“iya pak mur, ini imah, yang dulu sering bertengkar sama denis”.. jawab ibuku dengan tertawa

“Umi..apa-apaan sih?” Tanya ku dengan agak kesal

“ngak kenapa-napa kok mah, ayah hanya penasaran aja dengan wanita yang dipendam-pendam oleh denis selama ini” jawab ayah denis dengan tertawa.

Ha..apaa? Ayah? Kenapa ayah denis berbicara kepadaku dengan bahasa begitu, apa maksudnya semua ini? Begitulah prtanyaan yang ada dikepalaku.Dan aku menoleh kea rah orang tua ku dengan ekspresi bertanya-tanya.

”Imaaah..mungkin kamu binggung dengan kedatangan mreka dirumah kita, jadi abi ingin mengatakan nya kepadamu, ayah dan ibunya denis datang kesini dengan maksud untuk melamarmu, apa kamu menerimanya? Abi pikir sih kecil harapan untuk ditolak sama kamu” kata abiku dengan tersenyum-senyum

Aku kembali bertanya-tanya didalam pikiranku, haa..benarkan begitu, apakah begini cara orang mengkhitbah, aku serasa ingin melayang, taka da lagi kesedihan di dalam jiwaku setelah mendengar apa yang dikatakan abiku, dan aku tertunduk dengan senyumku. Ku rasakan bahwa denis melihat kearahku.

“Ooh mereka saat ini menggunakan bahasa tubuh yaa…!” kata umiku dengan maksud menggodaku.

“Ummiii..!” seru ku dengan manja

“Denis, coba kamu tanyakan langsung, mungkin imah menunggu kamu yang menanyakannya..” kata abiku..

Haa..denis, denis yang akan menanyakannya.. Ooh tuhaaan benarkah ini cinta sejati, benarkah ini cinta yang suci. Hatiku bertanya-tanya. Ku lihat tangan denis, jari-jemarinya gemetar membuat aku gugub berada didepannya.

“Imaaah..hmm Hay Imaaah.. Apa kamu mau menjadi yang halal untukku?’’ Tanya denis dengan gugub.

Aku tersenyum dan mengangukkan kepalaku. Lalu kutegakkan kepalaku, ku lihat senyum manis denis yang tak pernah kulihat bisa berbinar begitu. Ooh begitu legahnya aku mendapat kepastian itu, begitu manisnya rasa cinta yang allah berikan kepada hamba yang mencintainya, aku harap denis akan mengajarkanku juga untuk beristiqomah mencintai Allah dan juga Denis.. Suamiku


Jambi, 23 Mei 2016
Nurul Izzah