Menghitung Kepastian
Darimu
Aku
dan dia telah lama berpisah, bukan karna kami membenci tapi karna perasaan
inilah aku dan dia berpisah dengan jarak berkilo-kilo meter jauhnya. Karna kami
mempunyai janji sendiri dalam diri kami, yaitu mencari kebahagiaan terlebih
dahulu barulah kami akan bertekad untuk bersama, dia disana mempelajari dunia
dan akhirat untuk bisa menuntunku, dan aku disini terus memperbaiki diri untuk
bisa menjadi istri yang solehah untuknya. Namun tak ada kepastian yang
diberikan olehnya. Disinilah yang membuat aku tak yakin padanya, suatu hari aku
berkontak dengannya disitu ia hanya menanyakan kabarku, aku tak mau terlalu
banyak bicara kepadanya karna saat itu aku sedang menahan rinduku, rinduu,
sungguh sangat rindu, seandainya ia mengerti dengan apa yang aku rasakan
mungkin ia bisa mengerti maksudku.
“Imah..!
Bolehkah aku meminta photo mu yang sekarang?Kata Denis kepadaku.
Sunggu aku
tertegun dengan pesan yang ia kirim kepadaku, aku senang, karna aku berfikir
bahwa ia juga merindukanku.
“Untuk apa
den..?bukankah kau sudah mempunyai photo ku?. Begitu jawabku dengan hati
gembiranya, namun aku tetap gengsi untuk mengakuinya, karna aku berusaha untuk
menjadi muslimah sebenarnya.
“Hahaha..
Imah..Imaah, itu photo tahun brapa yang aku punya?, dan sekarang udah 2016,
bisa jadi aku tak mengenal wajahmu sekarang, sebagai gantinya, aku juga akan
memberikan photoku untukmu.” Jawab denis
“okelah, ini
photo ku” kukirim photoku bersama teman teman pengabdian ku dipondok. Disitu
aku sangat senang, serasa mau terbang kelangit 9 hehe.
“wah
cantik-cantik temanmu sekarang, tapi yang mana kamu, oh iya ininih photo aku”
kata denis
Aku tersenyum
saat melihat photo dia, sungguh ia tak berubah, dengan senyum manisnya
dibibirnya, lesung pipinya,hitam manisnya, mata jernihnya dan peci hitam nya.
“iya Alhamdulillah. Ooh syukurlah kau tak mengenaliku disana, aku adalah yang
paling jelek disana hehe” candaku kepadanya.
Dan taraaaaa..ia
tak membalas pesanku lagi, aku kesepian aku menyendiri, kemana ia? Padahal aku
ingin menanyakan kepastian dengannya.
Hari begitu cepat berganti tak
terasa udah idul fitri, yang aku tau kabar denis adalah tahun ini ia tak pulang
kampung, aku terima itu semua mungkin ia mau mencari suasana baru, tapi aku
berpikir, tega sekali ia membiarkan aku dengan tanpa kepastian darinya,
denis..aku merindukan mu, hatiku terus berkata begitu, ooh imah bodohnya kamu
mah, mengharapkan makhluk ilahi yang satu ini tanpa pernah kau ketahui isi
hatinya. Di hari pertama idul fitri ini aku hanya menangis menyendiri
dikamarku, memegang erat handphone ku, dengan wallpaper photo dia. Aku berdoa
kepada allah, semoga allah menghapuskan rasa cintaku kepadanya. Karna mencintai
makhluk allah itu sangat menyakitkan.
“Imah..kenapa
kamu nak?” Tanya umiku dan mendekat padaku
Aku terkejut
mendengar suara umiku “Eh.umi, ngak kenapa-napa kok mi” jawabku dengan
menghapus air mata ku dan terpaksa tersenyum didepan umiku.
“Menangis lah
mah, umi mengerti kamu kok, kamu merindukan si mas jawa mu itu ya?” umi berkata
dengan suara agak menggoda.
“hmmm..umi,
jangan bilang begitu, dia bukan orang jawa, bapak ibunya yang orang jawa”
jawabku dengan tersenyum pada umiku.
“Yasudah, gih
sholat dzuhur lagi, berdoa sama allah agar diberikan hambanya yang bernama
Denis Purnomo itu untuk Imah Hardianti ini” Kata umi dengan tertawa.
Aku meninggalkan umiku dikamarku
karna aku merasa malu sendiri pada umiku, selesai sholat aku kembali ke
kamarku, kulihat kembali handphone ku, dan ternyata ada pesan dari Denis yang
berisi
“Jangan lupa
doakan aku ya mah” begitulah pesan singkatnya dengan emoticon tertawa
Aku terkejut
dengan pesan darinya, aku mulai membalas “Ngak bakalan aku doain kamu den”
jawabku dengan miris.
“Looh, kenapa
Imah Hardianti anaknya bu marianti, bukankah kamu tak pernah melupakan aku si
denis manis ini” jawab denis dengan PD nya.
“Males aku
ngeladenin kamu den” jawabku dengan kesal.
Aku
langsung keluar dari kamarku dan menuju ruang tengah tempat biasa keluarga ku
berkumpul, dan di depan rumah ku aku
melihat 2 mobil yang tak ku kenali. Aku bertanya-tanya namun aku tetap
melangkah keruang tengah. Toks..toks..toks. aku terkejut melihatnya. Ternyata
itu adalah denis, denis yang barusan menghubungiku dan yang katanya tidak akan
pulang kampung, tak tahan aku dengan pertemuan ini, air mata ku membendung, dan
aku tak sanggup melihat wajah denis, aku berlari kembali memasuki kamarku,
kembali lagi aku menangis sejadi-jadinya, kenapa ia membohongi aku, kenapa ia
tiba-tiba hilang, dan kenapa dia tiba-tiba datang kembali. Kepalaku terasa
berputar-putar memikirkannya. Saat aku menangis terdengar suara pintu kamarku
ada yang membukanya, aku berpikir, itu pasti umiku lagi yang akan menghiburku,
aku terus menangis dengan mengenggam photo denis ditangan ku.
”Hey.. Imah
Hardianti..”
Aku
terkejut mendengar suara itu, siapa dia kenapa suara nya rada-rada aku
mengenalnya, dan aku menoleh kebelakang, dan ternyata ia adalah denis, tak
sanggup aku menahan semua ini, menangis sejadi-jadinya aku didepan denis, aku
tak tau kenapa rasa gengsi itu hilang saat denis benar-benar berada didepan
mataku mungkin ini karna aku baru kali ini bertemu kembali dengannya setelah 6
tahun berpisahnya kami, ia tetap menatapku dengan senyum manisnya, dan aku
tetap dengan suara tangisanku menatapnya, dan tak kusadari aku memeluk denis,
erat, sangat erat.
“Imaah,
kenapa kau memelukku, kita belum Muhrim imah..? kata denis dengan berusaha
melepaskan pegangan tangan imah ke tubuh denis.
“Kenapa
den..? kenapa kau memperlakukan aku begitu?” tanyaku dengan tangis.
“Aku
hanya malu Imah..” jawab denis
“Malu
kenapa den, apa aku tak pantas untuk mu?” imah tak sengaja berkata begitu, dan
ia semakin menangis.
“Cobalah
kau lihat ke dinding-dinding kamarmu ini..Tak malukah kamu dengan ayat-ayat
suci allah ini..?” denis berkata dengan senyumnya
“Hmm..aku
melupakannya saat kau datang kesini”.. jawab imah
“Kemana
ilmu mu imah? Karna hanya dengan melihatku kau menjadi lemah, tak seperti dulu
lagi yang selalu tertawa, menggamparku, menjahiliku bahkan kau menjadi musuh
terbesarku dahulu” jawab denis dengan tersenyum.
“semua
itu berubah saat kau pergi jauh dariku” jawab imah dengan suara yang kecil.
“Ya..begitulah
dengan aku mah, aku merasa, semakin kita berjauhan, dan semakin lama kita tidak
bertemu aku merasa mengumpulkan beribu-ribu rindu, bribu-ribu cinta untukmu”
Jawab denis mulai serius.
Aku
terrkejut dengan jawaban denis , aku senang, dan aku sangat terharu, tak
sanggup aku melihat wajahnya lagi, tak sanggup aku menjawab kata-katanya lagi.
“Imah,
jangan sentuh aku sebelum kita halal, bukan hanya kamu menahannya, aku juga
menahannya, aku menahannya saat aku jauh darimu untuk bisa mengirimkanmu pesan
ku, aku menahannya saat aku merindukanmu, aku berusaha agar cinta ini berkurang
kepadamu, namun ia malah membukit, setiap sepertiga malamku aku menangis hanya
karna mu, kenapa allah memberikan rasa cinta ku ini sangat besar kepadamu..”
denis mulai menjatuhkan air mata nya namun ia berusaha menutupinya didepanku.
Aku
tak ingin banya bicara lagi, aku lngsung meninggalkan denis yang ada dikamarku,
aku menuju ke kamar mandi, aku ingin berkaca dan membersihkan muka ku, karna
terlalu bodoh jika ia kembali melihatku dengan bekas tangis hanya karna nya.
Itu akan membuatnya berbangga diri karna
telah membuat aku menangisinya. Mungkin terlalu lama aku berada di dalam kamar
mandi, sehingga membuat ibuku memanggil ku untuk keluar dan duduk di ruang tengah,
aku pun keluar dengan berdoa agar denis telah pulang, namun begitu terkejut aku
melihat denis masih ada, bahkan bersama kedua orang tuanya, dan aku terpaksa
duduk disana karna ibuku yang meminta. Aku tertunduk, dan begitupun denis, taka
da satu katapun terdengar dari mulut manisnya itu. Dan tiba-tiba ayah denis
berkata
“Ooh
jadi ini toh anak mu mar” kata ayahnya denis
“iya
pak mur, ini imah, yang dulu sering bertengkar sama denis”.. jawab ibuku dengan
tertawa
“Umi..apa-apaan
sih?” Tanya ku dengan agak kesal
“ngak
kenapa-napa kok mah, ayah hanya penasaran aja dengan wanita yang
dipendam-pendam oleh denis selama ini” jawab ayah denis dengan tertawa.
Ha..apaa?
Ayah? Kenapa ayah denis berbicara kepadaku dengan bahasa begitu, apa maksudnya
semua ini? Begitulah prtanyaan yang ada dikepalaku.Dan aku menoleh kea rah
orang tua ku dengan ekspresi bertanya-tanya.
”Imaaah..mungkin
kamu binggung dengan kedatangan mreka dirumah kita, jadi abi ingin mengatakan
nya kepadamu, ayah dan ibunya denis datang kesini dengan maksud untuk
melamarmu, apa kamu menerimanya? Abi pikir sih kecil harapan untuk ditolak sama
kamu” kata abiku dengan tersenyum-senyum
Aku
kembali bertanya-tanya didalam pikiranku, haa..benarkan begitu, apakah begini
cara orang mengkhitbah, aku serasa ingin melayang, taka da lagi kesedihan di
dalam jiwaku setelah mendengar apa yang dikatakan abiku, dan aku tertunduk
dengan senyumku. Ku rasakan bahwa denis melihat kearahku.
“Ooh
mereka saat ini menggunakan bahasa tubuh yaa…!” kata umiku dengan maksud
menggodaku.
“Ummiii..!”
seru ku dengan manja
“Denis,
coba kamu tanyakan langsung, mungkin imah menunggu kamu yang menanyakannya..”
kata abiku..
Haa..denis,
denis yang akan menanyakannya.. Ooh tuhaaan benarkah ini cinta sejati, benarkah
ini cinta yang suci. Hatiku bertanya-tanya. Ku lihat tangan denis,
jari-jemarinya gemetar membuat aku gugub berada didepannya.
“Imaaah..hmm
Hay Imaaah.. Apa kamu mau menjadi yang halal untukku?’’ Tanya denis dengan
gugub.
Aku
tersenyum dan mengangukkan kepalaku. Lalu kutegakkan kepalaku, ku lihat senyum
manis denis yang tak pernah kulihat bisa berbinar begitu. Ooh begitu legahnya
aku mendapat kepastian itu, begitu manisnya rasa cinta yang allah berikan
kepada hamba yang mencintainya, aku harap denis akan mengajarkanku juga untuk
beristiqomah mencintai Allah dan juga Denis.. Suamiku
Jambi, 23 Mei 2016
Nurul Izzah